Kamis, 18 Oktober 2012

Cerpen Horor Seram - Bisikan Roh Setan


Oke guys, ini cerpen pertama aku di blog ini. Semoga sastra ini bermanfaat dan menghibur. Tunggu karya-karya Arum lainnya yang pastinya lebih keren. Damn, it is COOL!
 
BISIKAN ROH SETAN

Di belakang gedung olahraga SMA ku ada sebuah gedong kecil yang sudah tua dan candi bentar kori. Rasanya tidak percaya kalau daerah itu adalah bagian dari teritori sekolah. Seakan daerah itu merupakan dimensi lain dari dunia yang berbeda dengan udara dingin yang mengalir perlahan-lahan.
  “Hey, Yudha!”
  “Ayu!” jawabnya kemudian menoleh kepadaku.
  “ Sedang apa kamu di sini?” tanyaku.
  “Oh, tidak. Aku cuma heran saja, mengapa ada benda seperti ini di sini?” jawabnya seraya kembali mengamati gedong itu.
  “Ohhh itu. Katanya sih sudah ada sebelum sekolah ini didirikan. Menurut cerita para senior, setiap kali akan dipindahkan atau dibongkar, selalu saja terjadi kecelakaan. Makanya dibiarkan tetap di sini.”
  “Ohh.. Berarti sama. cerita lama, ya? Seperti gerbang puri yang ada di daerah teluk Karangasem.”
  “Wow! Ternyata kamu tahu banyak juga tentang hal seperti itu. Jangan-jangan kamu memang percaya dengan hal semacam kutukan atau roh,” ungkapku antusias.
  “Kenapa? Lucu ya? Memang aneh sih, anak cowok berminat terhadap hal-hal seperti ini.”
  “Ah, bukan begitu. Hehe. Oh iya, kalau tak salah ayah bilang, Inspektur Gunawan, ayah kamu itu peka terhadap mahluk-mahluk halus ya? Itu sebabnya dianggap aneh oleh instansi kepolisian yang biasanya selalu mengutamakan inspeksi ilmiah.”
  “Tapi ayah juga bilang kalau insting seorang inspektur polisi juga penting. Sebab, kadang ada insting yang tidak dapat dijelaskan secara spesifik bukan? Misalnya kenapa aku tidak suka tempat ini, rasanya takut dan ngeri. Mungkin cara aku mengatakannya agak ganjil, tapi aku merasa ada suatu hawa kejahatan terutama di gedong itu. Seakan ada sesuatu yang menunggu, sedapat mungkin aku tak mau mendekati gedong itu,” jawabnya dengan wajah penuh rasa cemas dan heran.
  Sebenarnya aku kurang begitu percaya dengan hal mistis seperti ini, tetapi mendengar Yudha bercerita seperti ini bulu kudukku mulai merinding juga. Aku pun mulai mengamati gedong ini sampai sesaat aku ingat kenapa aku ada di sini?
  “Eh.. Aku lupa! Aku ke sini untuk mencari Rama!” teriakku kaget.
  “Heh? Rama?”
  “Iya, sejak pelajaran selesai, dia tak kelihatan. Aku jadi khawatir, jangan-jangan tertangkap Bima lagi,” jawabku cemas sambil beranjak mencari Rama.
  “Bima? Teman sekelasku?” tanyanya yang kini juga ikut membantuku mencari Rama.
  “Mungkin kau tak tahu, karena baru saja pindah ke sini. Rama itu sejak kelas satu sudah jadi incarannya. Sedikit-sedikit terlibat sama mereka, entah diminta uangnya atau bekal makanannya. Sepertinya juga Rama sering dibawa ke sini.”
  “Itu bukannya berarti pemalakan?”
  “Memang! Tapi semua guru pura-pura tidak tahu sebab Bima itu anak orang terpandang dan prestasinya bagus,” jawabku kesal.
  “Tapi, hari ini sepertinya tak perlu khawatir. Bima pulang lebih awal karena sakit perut.”
  “Hah? Benarkah? Hahaha. Aku ingin lihat tampangnya yang sakit,” ucapku sinis.
  “Lho! Kalau begitu, Rama ke mana? Ini sudah akan jam pulang sekolah.”
******
  Sepulang sekolah, Rama dikepung oleh gengnya Bima di belakang gedong tua sekolah.
“Hei kau! Jangan macam-macam ya. Gara-gara bekal makan siangmu yang sudah basi itu, Bima jadi menderita. Kamu nggak kirim uang simpati, ah?” tanya Gusti gusar sambil menonjok Rama.
  “Tapi aku benar-benar tidak punya uang. Aku bermaksud menghentikannya. Tadi aku mau bilang kalau itu bekal kemarin yang lupa kumakan. Tapi aku dipaksa,” jawab Rama ketakutan.
  “Sialan! Jadi kamu mau bilang kalau mulut Bima itu sembarangan? Kurang ajar!! Kamu sengaja mengarahkan supaya dia makan itu kan!” balas Rai marah. Mereka berdua pun mulai mengeroyok, meninju, memukul. Badan Rama sudah babak belur dan berdarah.
  Sekarang Gusti mencoba mengambil pisau dari sakunya.
  “Hobi kamu main biola bukan? Biola itu yang terpenting tangan ya. Bagaimana supaya lebih menarik kita berikan coretan luka yang indah di tangannya? Setuju?”
  “Tolongg. Tolong jangan lakukan itu,” pinta Rama merintih.
  “Sudah terlambat tahu! Rasakan ini.”
ZRETTT.
  “Argghhhhh. Aw ahh tangankuuu. SAKITT!!. Akan kubalas! AKAN KUBALAS PERBUATAN KALIANNNN!!!!“
  Batu dalam gedong terbelah dua, kemudian keluarlah sesosok hantu besar berkain putih. Tiba-tiba suara petir menggelegar dan terdengar suara goresan keris. Gusti dan Rai dibunuh!
*****
  Saat itu Ayu ke rumah Yudha untuk minta tolong mencarikan Rama..
 Ting tong ting tong. Suara bel rumah Yudha berbunyi.
  “Lho Ayu, ada apa?”
  “Maaf malam-malam mengganggu. Aku dapat telepon dari ibu Rama, katanya dia belum pulang juga. Tolong bantu cari dia ya?”
“Rumahnya berlawanan arah dengan sekolah, tapi jaraknya hanya lima menit dengan berjalan kaki. Tak masuk akal kalau nyasar. Rama keluar dari rumahku sekitar jam setengah 6 sore, dan sekarang sudah hampir jam 9 malam,” ujarku cemas dan mulai memanggil nama Rama.
  “Tunggu! Eh, itu asap kan? Di belakang gedung olahraga. Ayo, kita ke sana!”
  “Ah gedongnya hangus! Pasti karena tersambar petir tadi. Untung ada hujan yang deras, tak sampai terjadi kebakaran besar. Eh, coba lihat deh di dalam gedong ini ada batu terbelah dua.”
  “Dibandingkan dengan tadi sekarang tidak terlalu mistis, bahkan mendekati hampa. Meskipun hanya sedikit, aku bisa merasakan adanya setan di sini. Sesungguhnya gedong ini dulu untuk mengenang apa, ya?” wajah Yudha mulai pucat.
  “Aahh, Yudha sini. Ramaaaa!! Apa yang terjadi? Ayo sadar Rama. Ah kenapa dengan tangannya?” ujarku cemas. Namun saat aku akan berbalik…
  “Awas!! Ayu jangan lihat ke belakang!”
  Tampak di dekat tubuh Rama, tergeletak dua mayat laki-laki Gusti dan Rai!
  Sejak itu, semalaman aku menangis terus. Katanya penyebab kematian dua orang siswa itu karena dipotong benda tajam semacam keris. Apa pelakunya seorang psikopat? Jangan-jangan polisi menuduh Rama. Entahlah menurut penyelidikan kejahatan ini dilakukan oleh orang berbadan besar. Rama sendiri sedang koma. Jadi, tak mungkin ditanyai tentang kejadian itu.
  Walaupun situasi di sekolah mulai normal, tapi akhir-akhir ini muncul isu aneh. Munculnya pria dengan rambut panjang, badan tinggi dan berkain putih. Terdengar langkah kaki, “tap tap tap…” mengikuti dari belakang. Tapi kalau kita menoleh, tak ada siapa siapa. Dan selalu terjadi kalau sendirian, pada saat pulang sekolah.
*****
Saat itu aku baru pulang dari klub. Lho burung gagak apa ini…? Rasanya akhir-akhir ini jumlahnya lebih banyak, aduh perasaanku tidak enak. Aku pun cepat-cepat pergi dari ruang klub. Hingga kemudian aku mendengar ribut-ribut, maka aku pun berhenti dan menguping.
“Pokoknya jangan dekati dia!”
“Enak saja! toh kamu cuma bertepuk sebelah tangan!”
“Ta…tapi aku yang lebih dulu suka dia! Kamu tahu itu kan?”
“Konyol! Ini bukan masalah prioritas bagi yang duluan, apalagi dia tak punya perasaan apa-apa terhadapmu!”
Wow! Ternyata ada medan perkelahian antara si cantik dan terkenal keturunan Jepang Yumi dari kelas B dengan Mirah.
Dheggg! Eh? Aneh… Perasaan ada seseorang yang berdiri di belakangku..
GREEK… Pintu pun terbuka.
“Aduh, Yumi… jangan mengagetkan donk!” ujarku kesal.
“Lha kamu sendiri? Jangan-jangan kamu nguping?” tanya Yumi dengan nada dingin.
“Ng.. maaf aku tak bermaksud begitu…” Dengan sinis Yumi pun meninggalkanku. Aduh biasa deh, Yumi. Dasar sombong!
Kenapa aku masih di sini? Ya, ampun cepat-cepat, pergi ah! Tapi ada apa ya dengan Mirah? Mengapa mukanya memerah dan matanya melotot begitu sambil berteriak marah?
“Akan kubalas dia. AKU   BALASSS  !! AKU  BALAS…  AKU   BALASSSSSS!!!”
“Mi.. mirah…? Kamu tak apa-apa…?”
Aku pun mendekati Mirah. Kini badannya sangat panas. Dan tubuhnya menggelepar seperti kerasukan. Dia juga terus-terusan memegang kepala kesakitan sampai akhirnya Mirah pingsan!
“Mirah…!. Gawat! Aku harus panggil guru…!”
“Tiara, mana guru? Mirah pingsan di ruang ganti baju.”
“Sekarang ini ada yang lebih gawat. Yumi anak kelas B itu. Dia akan melompat dari atas gedung olahraga!”
“Apaa??”
Kami berdua pun segera berlari menuju ke lokasi Yumi akan jatuh. Di sana sudah banyak murid yang panik dan berkerumun. Sampai kemudian….
PRANGGGG.. BRUKKK!!
Astaga! Itu Yumi! Dia benar-benar lompat dari atas gedung. Kami semua mendekati tubuh Yumi yang kini sudah berlumuran darah.
“Kyaa! Tadi aku lihat, di belakang Yumi ada pria berkain putih!” seru Tiara.
“Apa? Iiih seram. Jadi ternyata benar-benar ada hantunya,” siswa lain pun menanggapi.
Semua anak yang menonton kejadian itu pun mulai ribut dan berkomentar. Suasana berubah menjadi sangat seram ditambah dengan burung gagak yang mulai berdatangan.
  Ayu masih tampak shock dengan kejadian yang barusan dilihatnya. Dia pun duduk di kelas menenangkan diri. Tampak Bima dari luar kelas memperhatikan Ayu, dia berencana untuk menghibur Ayu. Tapi di sana sudah ada Yudha! Bima sudah keduluan.
  “Ini kopi untukmu. Sudah agak tenangan?” tanya Yudha seraya memberikan kopi padaku.
  “Eh. Terima kasih. Maaf ya, begitu melihat wajahmu tiba-tiba aku jadi ingin nangis.”
  “Iya tidak apa-apa kalau kamu mau kapan pun aku siap menggantikan Rama,” ujar Yudha, tangannya pun mulai merangkulku.
  “Lah? Kamu apaan sih. Aku dan Rama cuma teman sejak kecil kok. Kamu salah sangka,” jawabku sambil menepis tangannya. Pipiku sudah mulai memerah.
Bima sedang mengintip dengan sangat kesal yang melihat kemesraan Ayu dan Yudha.
  “Coba aku agak lebih lama di sekolahnya. Tadi aku buru-buru karena ada sesuatu yang ingin kuselidiki tentang gedong itu juga,” kata Yudha menyesal.
  “Lho, kamu juga berpikir begitu? Tadinya aku takut ditertawakan kalau mengatakan itu. Tapi kejadian pada Rama, lalu Yumi dan Mirah. Memang banyak muncul gosip seputar gedong itu. Lalu kupikir, jangan-jangan kita tidak boleh membiarkannya rusak seperti itu. Juga tentang pria berkain putih itu.”
  “Ayo kita tanyakan kepada kepala sekolah!”
Karena kepala sekolah yang sekarang baru menjabat maka kami kemudian pergi ke rumah kepala sekolah yang dulu…
  “Apa? Sudah meninggal dunia?”
  “Iya, mendadak kena stroke. Baru saja kami melewati 3 bulan hari kematiannya. Apa mungkin karena lama bertugas di SMA itu. Bapak selalu memikirkan sekolah itu, katanya mungkin karena kepala sekolah yang sekarang masih muda jadi tak ada keinginan untuk mengadakan upacara.”
  “Tunggu, apa maksud beliau gedong di belakang gedung olahraga itu?”
  “Saya tidak mengerti. Tapi kalau tidak salah setiap tahun bapak selalu minta tolong pura di dekat SMP itu untuk mengadakan upacara.”
 
Kemudian kami pun mendatangi rumah pemangku pura tersebut.
  “Ayah saya kepala pemangku pura ini. Beberapa hari yang lalu meninggal dunia karena serangan jantung. Kemarin baru saja mengadakan upacara 42 harinya. Rencananya saya yang akan melanjutkannya. Saya kurang tahu tentang SMA ini. Tapi kami akan membereskan gudang barang peninggalannya, jadi kalau ada informasi nanti saya akan menghubungi kalian.”
  “Iya terima kasih. Saya tunggu kabarnya.” Kami pun meninggalkan rumah pemangku pura itu. Namun mendadak Yudha berhenti.
  “Rasanya aneh. Maksudku rasanya kita selalu didahului. Setiap tempat yang kita kunjungi, semuanya meninggal mendadak,” ungkap Yudha kaget.
  “Jangan menakuti seperti itu dong!” jawabku ngeri.
  “Maaf.. Mungkin juga sih itu kebetulan. Tapi setidaknya sampai kepala sekolah sebelum ini, setiap tahun mengadakan upacara selamatan. Artinya, pasti ada yang diagungkan atau diperingati oleh orang-orang.”
*****
  Besoknya putra pemangku pura datang ke sekolah untuk menyampaikan bahwa gudang di puranya hangus terbakar. Jadi arsip-arsip gedong di sekolah hangus semua.
Sehubungan dengan itu, putera pemilik gedong tersebut mau menyampaikan sesuatu yang penting kepada kepala sekolah. Maka kami juga ikut hadir di ruang kepala sekolah karena kami tidak ingin keduluan lagi.
“Semua buku sejarah dan dokumen kuno penting habis terbakar. Entah kabar dari mana sekitar seminggu sebelum meninggal, ayah sempat menceritakan pada saya zaman dahulu seluruh kawasan ini adalah wilayah kekuasaan suatu keturunan yang bernama Granachika. Dia adalah seorang penjahat yang mungkin bisa disebut pembunuh maniak,” ujar putra pemangku menjelaskan.
“ Pembunuh maniak?” tanyaku ngeri.
“Kalau menurut pendapat saya, Granachika adalah sosok manusia yang tidak bisa mencintai wanita dengan cara moral. Dia menyerang wanita-wanita di wilayahnya hanya dengan tujuan untuk membunuh. Bahkan pernah terjadi dia menyeret korban ke rumahnya dan memotong-motongnya. Tapi, yang tahu hal ini hanya segelintir keluarganya saja, khususnya adiknya yang bernama Agunglah yang dengan lihai menutupi aib ini, dengan memanfaatkan kekuasaan dan kedudukannya. Suatu kali, Agung tidak mampu lagi menutupi hal ini karena didasari rasa takutnya diketahui oleh masyarakat, akhirnya ia berhasil mengisolir Granachika ke negara lain… Setelah dua puluh tahun lamanya terisolir, Granachika jatuh sakit dan sampai akhir hayatnya dia terus memendam rasa dendam dan kebencian terhadap adiknya.”
 “Tapi, justru yang menakutkan adalah setelah ini. Antara lain bekas cap tangannya yang berlumuran darah, yang merupakan tanda di akhir hayatnya. Meski sudah dibersihkan berulang kali, tetap tak bisa hilang dan juga dari tulang belulang yang dibawa pulang ke rumahnya keluar gumpalan darah. Lalu di kamar yang seharusnya kosong tiba-tiba ada orang terbunuh. Pokoknya, banyak sekali kejadian aneh berturut-turut di wilayah kediaman keluarga Granachika. Akhirnya, tak ada seorang pun anggota keluarga Granachika yang tersisa, semua terbunuh dengan cara menggenaskan, anggota keluarganya punah dan semua wilayah kekuasaanya disita. Namun kejadian aneh masih saja terjadi, sehingga seorang dukun terpandang yang dekat hubungannya dengan keluarga Granachika, mengubur roh Granachika ke dalam batu dan dipusakakan. Agar roh Granachika tetap tenang di alamnya, setiap tahun diadakan upacara,” jelasnya lagi.
 “Jadi, bekas kediaman keluarga Granachika tidak lain adalah gedung sekolah SMA ini. Lalu gedong kuno itu didirikan untuk mendoakan roh Granachika,” ungkapku mengerti.
“Ternyata dia adalah Granachika..! Dendam dan kebencian, oleh sebab itu dia akan merespon getaran roh orang-orang yang memendam perasaan seperti itu,” ujar Yudha.
“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.
  “Pada saat orang yang terdesak itu berubah niat untuk melawannya, getaran rohnya akan sampai pada titik klimaks. Sampai akhirnya memanggil roh Granachika untuk bangun dari peristirahatannya,” jelas Yudha.
“Maksudnya pada Rama maupun Mirah juga…?”
“Ya, begitulah.”
“Tidak! Apa yang saya dengar ini konyol memang menarik sebagai suatu cerita, tapi mustahil terjadi di kehidupan nyata. Saya tak percaya cerita itu!” jawab Kepala Sekolah ragu.
“Bapak hanya tidak mau mempercayainya! Bagaimana nasib Rama dan Mirah?” aku pun menggertak dengan kesal.
 “Pak, lebih baik segera bangun kembali gedong tersebut setidaknya, tolong berikan izin kemudian kita lakukan upacara. Tiga hari lagi, tepatnya pada tanggal 26 September, adalah hari kematian Granachika. Tahun ini bertepatan dengan peringatan kedua ratus tahunnya. Paling tidak, tahun ini harus diadakan upacara, karena kalau tidak, saya khawatir akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan,” putra pemangku itu juga ikut membujuk.
Kepala sekolah tetap tak memberikan jawaban. 
*******
Besoknya di sekolah…
PLOK. Sepucuk surat terjatuh dari lokerku. Ternyata Bima mengajakku bertemu di gedung olahraga sepulang sekolah.
 “Ayu..! Mungkin pertanyaanku aneh, apa benar Bima suka padamu..?”
“Eh..? Entahlah.. Tapi teman-teman sering menggodaku begitu…” ujarku malu.
Oh! Jadi begitu. Kini kebencian Bima yang dimanfaatkan! Sebenarnya kebencian Bima ditujukan pada Rama, tapi karena kekuatan batinnya lebih kuat daripada Bima, jadi terpental ke Ayu!! Kalau begitu, Bima juga sedang dalam bahaya! Nantinya dia bisa mengalami hal serupa dengan Rama dan Mirah, bahkan bisa saja roh Granachika bangkit lagi dan merasukinya. Maka Yudha pun bersedia mengantarku menemui Bima.
Hari ini banyak sekali roh bergentayangan. Mereka terserap oleh getaran roh yang lebih kuat lagi!
Akh…! Celaka! Aku jadi sesak napas… Kepalaku juga nyut-nyutan… Sialan! Padahal sudah lama tak pernah seperti ini… Hosh..Hosh..Hosh.. Kondisi Yudha menjadi aneh dan pucat.
ZRET..BRUUK.. Yudha pingsan! Aku seharusnya tak boleh seperti ini…!!  Aku harus melindungi Ayu. Dia yang tak pernah merasa aneh dan takut padaku. Dia cewek pertama yang begitu. Aduh badanku tak bisa bergerak!
******
  “Yudha lama sekali, padahal pasti waktu latihan ekstrakurikuler sudah selesai…”
  “Ayu!” terdengar suara dari dalam gedung dan ternyata itu Bima!
  SETTT… Bima berlari ke dalam gedung.
  “Eh, Tunggu Dulu, Bima…!!  Bima… Jangan lari!” Aku pun segera mengejar Bima.
          GREEEK, seseorang mengunciku di gedung olahraga dan memadamkan listrik.       
  “Apa ini? Tak bisa dibuka..! Hentikan..! Siapa sih yang iseng begini ?... HENTIKAN !!!”

Di UKS, ayah Yudha pun datang menjenguk Yudha yang pingsan.  Namun setelah dibacakan mantra tertentu. Yudha pun mulai sadar.
   “Yudha? Sudah sadar ya? Kamu kalah dengan roh kelas rendah lagi, kamu kurang latihan. Kenapa hawa jahat di sekolah ini besar sekali?” ungkap ayah Yudha.
  “Oh iya, Ayu! Ayah, aku harus segera menolongnya.” Yudha pun bergegas mencari Ayu.
******
Kini Ayu terperangkap di dalam gedung olahraga bersama dengan Bima. Namun ada yang aneh dengan sikap Bima, tiba-tiba dia memelukku paksa.
“Aku mencintaimu. Tak akan kuserahkan dirimu pada siapapun. Ayo ke sini sayang, semua yang ada pada dirimu milikku! Sampai titik darah penghabisan. Ya benar. DARAHMU!! Aku ingin melihat darahmu. Darah…Darah.. Darahhhhhh.”
Di tangan Bima kini sudah ada segenggam keris. Aku pun berlari melepaskan diri tetapi Bima masih terus mengejarku. Aku terus berusaha berteriak minta tolong. Kemudian, Yudha datang!
  Yudha pun segera meraihku dan berusaha melarikanku tetapi tiba-tiba tubuh Bima berubah. Kini dia berubah menjadi hantu! Badannya sangat besar dengan keris di tangan dan dia berkain putih!
  Saat Bima akan mengayunkan kerisnya ke arah kami, Yudha pun mengambil kerisnya dan mengucapkan sebuah mantra.
  “Kembalilah ke tempat yang telah dijanjikan Granachika! SELAMANYAAAA!!!”
ZRETTTTZZZ. BLAAARRRR.. Akhirnya Yudha pun memenangkan pertempuran kali itu dan berhasil mengusir roh Granachika dari tubuh Bima, meskipun Yudha dan Bima kini pingsan.
******
Beberapa hari kemudian situasi mulai tenang, Yudha yang terlelap akibat pertempuran sudah pulih kembali. Kemudian berkat desakan ayah Yudha, akhirnya kepala sekolah mau membuka hatinya. Gedong ini didirikan kembali dan diadakan upacara untuk roh Granachika serta upacara dua ratus tahun meninggalnya. Rama dan Mirah juga sudah sadarkan diri. Meskipun tiga orang korban yang meninggal tak bisa kembali lagi, situasi dan kondisi sekolah sudah mulai normal.
Meski gedong tak akan pernah lagi dibiarkan rusak dan upacara diadakan setiap tahun. Bukan berarti getaran jahat yang ada dalam diri kita tidak akan membangunkan roh Granachika.
Kecemburuan, iri, dendam, kemarahan, kebencian dapat membangkitkan roh jahat yang terpendam pada diri kita. Sebab sekolah adalah tempat yang mudah menimbulkan rasa itu.

TAMAT

What do you think guys? (Please bilang serem. -_-)

2 komentar:

Unknown mengatakan...

keren bangettt (y)

Unknown mengatakan...

setannya pasti Arumo ya?
hahaha :) :p

Posting Komentar