Kamis, 18 Oktober 2012

Cerpen Mengaharukan - Cinta Yang Sia-Sia


Okey, jadi ini ini cerpen keduaku. Kata temen-temen sih ceritanya menyentuh. How about you? Let's reading. It's Arum story. Damn, it is COOL!

CINTA YANG SIA-SIA

"Tidak semua yang kita inginkan akan selalu terwujud" Itulah kenyataan yang memang pahit dan membuat manusia selalu lupa akan apa yang telah diberikan Tuhan. Rasa tidak puas diri dan selalu serakah, menjadi sifat dasar manusia yang sulit dihilangkan.

Begitupun dengan Cinta~ Ajeng adalah seorang gadis manis dan selalu menjadi bunga yang harumnya mampu menarik banyak kumbang. Sejak duduk di bangku SMU Ajeng berpacaran dengan Andre. Sudah hampir 4tahun mereka bersama. Andre bangga memiliki kekasih yang cantik dan selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Tapi, terkadang Ia juga merasa gerah saat gadisnya dipandangi seribu tatapan mata serigala yang siap menelannya.

Pesona yang dimiliki Ajeng terkadang membuat Andre lelah. Andre sesosok pria yang biasa - biasa saja. Lahir dari keluarga biasa, juga memiliki wajah yang biasa - biasa saja, walaupun diberkati senyuman yang manis. Ia merupakan orang yang sabar dalam menghadapi Ajeng. Gadis yang Ia cintai memang sedikit manja dan keras kepala. Namun Andre tetap tahan menghadapinya.

"Wanginya" Ajeng ternyata membuai banyak pria yang lebih menarik dari kekasihnya, Andre. Ajeng terkadang lupa diri, bahwa Ia telah memiliki Andre. Walaupun hatinya tidak pernah berubah, tetapi sikap Ajeng sering membuat Andre terluka. Ia hanya tidak ingin gadisnya terlalu sering menanggapi kumbang lain yang ingin mendekati Bunga hatinya.

Andre selalu mengalah dan percaya pada Ajeng. Namun kali ini sepertinya kesabaran yang dimilikinya telah habis. Ajeng yang dicintainya mulai sedikit berubah. ketakutan Andre akan kehilangan belahan jiwanya membuat dirinya sedikit mengekang Ajeng. Ajeng yang terbiasa bebas pun akhirnya mulai menunjukan sikap berontak pada kekasihnya.

"Aldo cuma tetangga sebelah rumahku sayang!, kenapa sih kamu cemburu banget aku deket-deket sama dia??" Ajeng berbicara dengan suara lantang. Ia kesal jika Andre mulai mengungkit-ungkit kedekatannya dengan Aldo.

"Iya Ajeng, aku tau Aldo itu, tetangga kamu. Tapi gak perlu kan seorang tetangga menunjukan rasa terimakasih dengan pelukan dan ciuman di pipi? Apa itu perlu?" Andre masih berbicara dengan nada datar, rasa kesalnya tidak pernah ingin Ia tunjukan kepada wajah tanpa dosa di hadapannya.

"Kamu kadang-kadang norak deh, memang gak boleh kalo temen nunjukin rasa perhatiannya dengan peluka dan ciuma di pipi? Kamu kadang-kadang kaya orang jaman dulu. kolot banget sih?!" Ajeng mendengus kesal. Ia menunjukan rasa dongkolnya pada Andre. Ia menganggap Andre terlalu kekanak-kanakan dan cemburuan.

Andre terdiam sebentar, lalu mulai menatap Ajeng. Ia menghela napas pelan. " Ajeng sayang, maaf aku terlalu takut untuk kehilangan kamu. Aku gak pernah mau liat wajah kamu ditekuk-tekuk seperti itu. Aku gak sanggup liat senyumanmu hilang..." Ucap Andre dengan lembut.

Wajah Ajeng mulai berubah. Kata-kata Andre membuat hatinya luluh. pelan-pelan Ia tersenyum. wajahnya sedikit merona. "Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Ajeng kan sayang Andre..." Ajeng memeluk tubuh kekasihnya erat. Ia merasa bingung. Sebetulnya Ia mulai sedikit bosan dengan Andre. memiliki kekasih yang selalu betekuk lutut di hadapannya membuat Ia menjadi jengah. Namun Ia tidak ingin menyakiti hati Andre. Ajeng mencoba menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada Andre bahwa Ia sudah resmi menjadi kekasih Aldo.

*****

"Bebh, kenapa ngelamun..." Aldo membuyarkan lamunan Ajeng.

"Uhm... gak apa-apa, aku cuma sedikit cape..." Balas Ajeng.

Aldo memeluk tubuh Ajeng dari belakang. kemudian mencium rambut Ajeng yang panjang sepinggang. Tak lama Aldo mulai berbicara lagi. "Kamu udah ngomong sama Andre soal kita?" Ujarnya, membuat Ajeng tersentak.

Ajeng menjadi gugup dan gelisah. "uhm... itu..., belum Bebh... Aku belum ketemu Andre lagi. Dia masih sibuk sama kuliahnya. belum bisa ketemu Aku" ujar Ajeng sambil menunduk.

"Masa udah hampir 2 bulan jalan belum ada omongan apa-apa? Kamu ga bisa ngomong sama dia?? Biar Aku aja deh nanti yang bilang..." Aldo terlihat tidak sabar. Ia ingin cepat-cepat memiliki Ajeng seutuhnya.

Dengan cepat, Ajeng menjawab "jangan!! biar Aku nanti yang bilang sama Andre. Besok Aku sama Dia ketemu"

"Oya? Dimana? Aku boleh ikut?" Aldo terlihat antusias.

Ajeng kembali tergagap. "Itu... uhm... di rumah, Kamu gak usah ikut. Aku gak mau sampe ada apa-apa nantinya"

Aldo menatap Ajeng dalam-dalam. "yakin Kamu bisa ngomong sendiri sama Dia? Tapi gak pake lama kan?"

Ajeng Mengangguk pelan. Ia hanya sanggup menahan tangis didalam hatinya. Besok Ia akan berbicara pada Andre untuk terakhir kalinya.

*****

Hari ini Ajeng bersiap-siap menunggu kedatangan Andre. Ia terlihat gugup. Wajah cantiknya sedikit tegang. Beberapa kali Ajeng bolak-balik ke teras depan rumahnya menunggu pintu pagar rumahnya dibuka Andre. Tak lama Andre muncul didepan pintu rumahnya sambil membawa seikat bunga, dan sebuah bingkisan untuk Ajeng.

"Hay Cantik... lagi ngelamunin apa?" Andre mengecup kening Ajeng dengan lembut. sedikit pelukan Ia lakukan untuk menghilangkan rasa rindunya pada Ajeng.

"Emm... Hay Andre... Sini duduk… Aku mau bicara sama kamu..." Ajeng melepaskan pelukan Andre dan menariknya untuk duduk disebelahnya.

"Kelihatannya serius, ada apa?" Andre duduk sambil menaruh bucket bunga dan bingkisan yang Ia bawa dihadapan Ajeng.

"Apa ini Andre? Ada yang spesial?"

Andre hanya tersenyum dan memainkan rambut gadis kesayangannya. "Buatku yang spesial cuma kamu..." Ujarnya lembut.

Ajeng semakin tertunduk. "Gini Andre..." Ajeng mulai berbicara. "Uhm... mulai sekarang..." Ia menelan ludahnya. Kata-kata yang sudah Ia siapkan tersangkut ditenggorokannya. Ia tidak sanggup menatap wajah Andre yang sudah lama memberikan hari-hari indah dan kenangan manis dihatinya. Air mata Ajeng mulai menetes.

Andre terdiam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia seperti telah mengetahui apa yang akan dikatakan kekasihnya. "Apa Aku melakukan suatu kesalahan besar sehingga membuat air matamu menetes seperti itu..."

Ajeng menggelengkan kepalanya. Ia semakin berat mengungkapkan isi hatinya.

"Apa Kamu gak suka sama bingkisan yang Aku bawa?"

Ajeng menggeleng lagi. "Bukan itu Andre...!!!"  Ajeng memberanikan diri berbicara. tapi Ia tetap tidak mampu melihat wajah Andre. "Aku mau kita pisah..., cukup sampai disini" Ajeng menarik napas panjang dan menghentikan tangisnya. kemudian Ia meninggalkan Andre di ruang tamu rumahnya. Andre hanya dapat terdiam. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Seluruh dunianya mendadak gelap. Hatinya tiba-tiba kosong.

Hari Ulang Tahunnya yang telah Ia persiapkan dengan matang untuk mengajak belahan hatinya menikmati langit sore di sebuah pantai yang telah Ia pesan, kini hanya menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Andre tiba-tiba merasa bahwa Ia hanya bermimpi. tapi ini adalah kenyataan. Ia dapat merasakan remuk redam hatinya saat itu secara nyata. “Aku gelapppp...”



*****

Ajeng akhirnya membuka bingkisan yang Andre tinggalkan dimeja ruang tamu rumahnya. Ia tetap membukanya. Dengan perasaan yang ikut hancur seperti kertas kado yang Ia buka dengan tidak sabar.

Sebuah permen coklat dan bingkai foto yang memajang foto dirinya dengan Andre. Foto itu terlihat sudah lama. Ajeng memandangi foto yang Ia pegang lekat-lekat. Foto itu diambil ketika Ajeng dan Andre baru memulai masa-masa indah mereka. Senyuman Ajeng dan tatapan matanya. Melukiskan bahwa Ia hanya tersenyum untuk Andre. Hanya Andre yang terlihat tidak pernah berubah. Tatapan hangat dan cinta masih selalu Ia dapatkan dari Andre.

Ajeng memeluk erat foto yang Ia pegang. Bingkisan coklat kesukaannya Ia buka. Ajeng memakan coklat pemberian Andre dengan air mata yang menetes tanpa henti. Bingkai foto berwarna hitam berukirkan tulisan "I always beside You" pun tetap berada dipelukannya.

Ajeng terhenyak setelah hampir setengah jam Ia menumpahkan kesedihannya. Tiba-tiba Ia tersadar, Ia telah melakukan kesalahan besar. Hari ini adalah hari Ulang Tahun Andre yang ke-20, bertepatan dengan hari jadi kasih mereka yang genap 4 tahun.

Ajeng berlari keluar dan memacu mobilnya kencang menuju rumah Andre. Ketika sampai alangkah terkejutnya Ia mendapati rumah Andre ramai dikunjungi orang. Dadanya berdegup kencang saat memasuki halaman rumah Andre. Bendera kuning terlihat menghiasi pagar rumah Andre. Ia hanya dapat bertanya-tanya dalam hati siapakah keluarga Andre yang telah berpulang. Saat berada didepan pintu rumah Andre. Tiba-tiba Ajeng di tubruk sesosok gadis kecil yang bercucuran air mata.

"Kak Ajengiiiiiiiii...., Mama baru mau telepon Kak Ajeng " ujar gadis kecil itu pilu. Ia menumpahkan air matanya dipelukan Ajeng. Puluhan pasang mata menatapnya. Ia masih terheran-heran sambil mencoba menenangkan Grachel adik dari mantan kekasihnya, Andre.

"Chel... ada apa? Siapa yang meninggal? Mana Kak Andre?" Ajeng memeluk tubuh Grachel dengan erat.

Gadis kecil itu masih tampak kesulitan berbicara. Dengan terisak-isak Ia menarik tangan Ajeng perlahan menuju ruang keluarga.

Sungguh sebuah pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Kedua orang tua Andre tampak menghampiri Ajeng yang terduduk lemas. Wajah tenang Andre dibalut kain kafan. Tubuhnya ditempatkan disebuah peti yang terletak tepat dihadapannya. Ajeng tak dapat berkata-kata. Tiba-tiba semuanya gelap. Ia hanya dapat mendengar jeritan Grachel dan Tante Marwa, Ibu kandung Andre.

*****

Satu minggu berlalu sejak kepergian Andre. Ajeng tetap tidak dapat menyembunyikan Kesedihan hatinya yang dalam. Ia terguncang dan tidak menyentuh makanan sedikitpun. hanya sedikit air yang masuk kedalam tubuhnya. Ia tidak merasa lapar. saat ini yang Ia inginkan hanya kembali melihat senyuman orang yang paling Ia cintai, dan berada didalam dekapannya. Rasa penyesalan yang selalu hinggap dalam hatinya membuat Ia kehilangan arah dan tujuan hidupnya.

Andre yang tepat merayakan hari bahagianya, Ia hancurkan dengan satu kalimat yang Ia lontarkan dengan tidak berperasaan. Andre begitu terluka dan sedih sehingga tidak menyadari jika Ia tengah menyeberangi jalan yang ramai dan berhadapan dengan sebuah Truck yang sedang melaju kencang. Andre terlambat dibawa ke RS. Menurut pengakuan saksi mata yang ikut melayat ke rumah Andre. Andre hanya sempat menyebutkan satu kata sebelum menghembuskan nafas terakhirnya "Ajeng..."

END.


Ayo, yang udah baca, jangan lupa coment :)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

keren, bikin mewek..

Posting Komentar