Okey, jadi ini ini cerpen keduaku. Kata temen-temen sih ceritanya menyentuh. How about you? Let's reading. It's Arum story. Damn, it is COOL!
CINTA YANG SIA-SIA
"Tidak
semua yang kita inginkan akan selalu terwujud" Itulah kenyataan yang
memang pahit dan membuat manusia selalu lupa akan apa yang telah
diberikan Tuhan. Rasa tidak puas diri dan selalu serakah, menjadi sifat
dasar manusia yang sulit dihilangkan.
Begitupun dengan
Cinta~ Ajeng adalah seorang gadis manis dan selalu menjadi bunga yang
harumnya mampu menarik banyak kumbang. Sejak duduk di bangku SMU Ajeng
berpacaran dengan Andre. Sudah hampir 4tahun mereka bersama. Andre
bangga memiliki kekasih yang cantik dan selalu menjadi pusat perhatian
semua orang. Tapi, terkadang Ia juga merasa gerah saat gadisnya
dipandangi seribu tatapan mata serigala yang siap menelannya.
Pesona
yang dimiliki Ajeng terkadang membuat Andre lelah. Andre sesosok pria
yang biasa - biasa saja. Lahir dari keluarga biasa, juga memiliki wajah
yang biasa - biasa saja, walaupun diberkati senyuman yang manis. Ia
merupakan orang yang sabar dalam menghadapi Ajeng. Gadis yang Ia cintai
memang sedikit manja dan keras kepala. Namun Andre tetap tahan
menghadapinya.
"Wanginya" Ajeng ternyata membuai banyak
pria yang lebih menarik dari kekasihnya, Andre. Ajeng terkadang lupa
diri, bahwa Ia telah memiliki Andre. Walaupun hatinya tidak pernah
berubah, tetapi sikap Ajeng sering membuat Andre terluka. Ia hanya tidak
ingin gadisnya terlalu sering menanggapi kumbang lain yang ingin
mendekati Bunga hatinya.
Andre selalu mengalah dan percaya
pada Ajeng. Namun kali ini sepertinya kesabaran yang dimilikinya telah
habis. Ajeng yang dicintainya mulai sedikit berubah. ketakutan Andre
akan kehilangan belahan jiwanya membuat dirinya sedikit mengekang Ajeng.
Ajeng yang terbiasa bebas pun akhirnya mulai menunjukan sikap berontak
pada kekasihnya.
"Aldo cuma tetangga sebelah rumahku
sayang!, kenapa sih kamu cemburu banget aku deket-deket sama dia??"
Ajeng berbicara dengan suara lantang. Ia kesal jika Andre mulai
mengungkit-ungkit kedekatannya dengan Aldo.
"Iya Ajeng,
aku tau Aldo itu, tetangga kamu. Tapi gak perlu kan seorang tetangga
menunjukan rasa terimakasih dengan pelukan dan ciuman di pipi? Apa itu
perlu?" Andre masih berbicara dengan nada datar, rasa kesalnya tidak
pernah ingin Ia tunjukan kepada wajah tanpa dosa di hadapannya.
"Kamu
kadang-kadang norak deh, memang gak boleh kalo temen nunjukin rasa
perhatiannya dengan peluka dan ciuma di pipi? Kamu kadang-kadang kaya
orang jaman dulu. kolot banget sih?!" Ajeng mendengus kesal. Ia
menunjukan rasa dongkolnya pada Andre. Ia menganggap Andre terlalu
kekanak-kanakan dan cemburuan.
Andre terdiam sebentar,
lalu mulai menatap Ajeng. Ia menghela napas pelan. " Ajeng sayang, maaf
aku terlalu takut untuk kehilangan kamu. Aku gak pernah mau liat wajah
kamu ditekuk-tekuk seperti itu. Aku gak sanggup liat senyumanmu
hilang..." Ucap Andre dengan lembut.
Wajah Ajeng mulai
berubah. Kata-kata Andre membuat hatinya luluh. pelan-pelan Ia
tersenyum. wajahnya sedikit merona. "Aku gak akan pernah ninggalin kamu,
Ajeng kan sayang Andre..." Ajeng memeluk tubuh kekasihnya erat. Ia
merasa bingung. Sebetulnya Ia mulai sedikit bosan dengan Andre. memiliki
kekasih yang selalu betekuk lutut di hadapannya membuat Ia menjadi
jengah. Namun Ia tidak ingin menyakiti hati Andre. Ajeng mencoba
menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan pada Andre bahwa Ia sudah
resmi menjadi kekasih Aldo.
*****
"Bebh, kenapa ngelamun..." Aldo membuyarkan lamunan Ajeng.
"Uhm... gak apa-apa, aku cuma sedikit cape..." Balas Ajeng.
Aldo
memeluk tubuh Ajeng dari belakang. kemudian mencium rambut Ajeng yang
panjang sepinggang. Tak lama Aldo mulai berbicara lagi. "Kamu udah
ngomong sama Andre soal kita?" Ujarnya, membuat Ajeng tersentak.
Ajeng
menjadi gugup dan gelisah. "uhm... itu..., belum Bebh... Aku belum
ketemu Andre lagi. Dia masih sibuk sama kuliahnya. belum bisa ketemu
Aku" ujar Ajeng sambil menunduk.
"Masa udah hampir 2 bulan
jalan belum ada omongan apa-apa? Kamu ga bisa ngomong sama dia?? Biar
Aku aja deh nanti yang bilang..." Aldo terlihat tidak sabar. Ia ingin
cepat-cepat memiliki Ajeng seutuhnya.
Dengan cepat, Ajeng menjawab "jangan!! biar Aku nanti yang bilang sama Andre. Besok Aku sama Dia ketemu"
"Oya? Dimana? Aku boleh ikut?" Aldo terlihat antusias.
Ajeng kembali tergagap. "Itu... uhm... di rumah, Kamu gak usah ikut. Aku gak mau sampe ada apa-apa nantinya"
Aldo menatap Ajeng dalam-dalam. "yakin Kamu bisa ngomong sendiri sama Dia? Tapi gak pake lama kan?"
Ajeng
Mengangguk pelan. Ia hanya sanggup menahan tangis didalam hatinya.
Besok Ia akan berbicara pada Andre untuk terakhir kalinya.
*****
Hari
ini Ajeng bersiap-siap menunggu kedatangan Andre. Ia terlihat gugup.
Wajah cantiknya sedikit tegang. Beberapa kali Ajeng bolak-balik ke teras
depan rumahnya menunggu pintu pagar rumahnya dibuka Andre. Tak lama
Andre muncul didepan pintu rumahnya sambil membawa seikat bunga, dan
sebuah bingkisan untuk Ajeng.
"Hay Cantik... lagi
ngelamunin apa?" Andre mengecup kening Ajeng dengan lembut. sedikit
pelukan Ia lakukan untuk menghilangkan rasa rindunya pada Ajeng.
"Emm...
Hay Andre... Sini duduk… Aku mau bicara sama kamu..." Ajeng melepaskan
pelukan Andre dan menariknya untuk duduk disebelahnya.
"Kelihatannya serius, ada apa?" Andre duduk sambil menaruh bucket bunga dan bingkisan yang Ia bawa dihadapan Ajeng.
"Apa ini Andre? Ada yang spesial?"
Andre hanya tersenyum dan memainkan rambut gadis kesayangannya. "Buatku yang spesial cuma kamu..." Ujarnya lembut.
Ajeng
semakin tertunduk. "Gini Andre..." Ajeng mulai berbicara. "Uhm... mulai
sekarang..." Ia menelan ludahnya. Kata-kata yang sudah Ia siapkan
tersangkut ditenggorokannya. Ia tidak sanggup menatap wajah Andre yang
sudah lama memberikan hari-hari indah dan kenangan manis dihatinya. Air
mata Ajeng mulai menetes.
Andre terdiam dan mengatupkan
bibirnya rapat-rapat. Ia seperti telah mengetahui apa yang akan
dikatakan kekasihnya. "Apa Aku melakukan suatu kesalahan besar sehingga
membuat air matamu menetes seperti itu..."
Ajeng menggelengkan kepalanya. Ia semakin berat mengungkapkan isi hatinya.
"Apa Kamu gak suka sama bingkisan yang Aku bawa?"
Ajeng
menggeleng lagi. "Bukan itu Andre...!!!" Ajeng memberanikan diri
berbicara. tapi Ia tetap tidak mampu melihat wajah Andre. "Aku mau kita
pisah..., cukup sampai disini" Ajeng menarik napas panjang dan
menghentikan tangisnya. kemudian Ia meninggalkan Andre di ruang tamu
rumahnya. Andre hanya dapat terdiam. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa
terkejutnya. Seluruh dunianya mendadak gelap. Hatinya tiba-tiba kosong.
Hari
Ulang Tahunnya yang telah Ia persiapkan dengan matang untuk mengajak
belahan hatinya menikmati langit sore di sebuah pantai yang telah Ia
pesan, kini hanya menjadi hari terburuk dalam hidupnya. Andre tiba-tiba
merasa bahwa Ia hanya bermimpi. tapi ini adalah kenyataan. Ia dapat
merasakan remuk redam hatinya saat itu secara nyata. “Aku gelapppp...”

*****
Ajeng
akhirnya membuka bingkisan yang Andre tinggalkan dimeja ruang tamu
rumahnya. Ia tetap membukanya. Dengan perasaan yang ikut hancur seperti
kertas kado yang Ia buka dengan tidak sabar.
Sebuah permen
coklat dan bingkai foto yang memajang foto dirinya dengan Andre. Foto
itu terlihat sudah lama. Ajeng memandangi foto yang Ia pegang
lekat-lekat. Foto itu diambil ketika Ajeng dan Andre baru memulai
masa-masa indah mereka. Senyuman Ajeng dan tatapan matanya. Melukiskan
bahwa Ia hanya tersenyum untuk Andre. Hanya Andre yang terlihat tidak
pernah berubah. Tatapan hangat dan cinta masih selalu Ia dapatkan dari
Andre.
Ajeng memeluk erat foto yang Ia pegang. Bingkisan
coklat kesukaannya Ia buka. Ajeng memakan coklat pemberian Andre dengan
air mata yang menetes tanpa henti. Bingkai foto berwarna hitam
berukirkan tulisan "I always beside You" pun tetap berada dipelukannya.
Ajeng
terhenyak setelah hampir setengah jam Ia menumpahkan kesedihannya.
Tiba-tiba Ia tersadar, Ia telah melakukan kesalahan besar. Hari ini
adalah hari Ulang Tahun Andre yang ke-20, bertepatan dengan hari jadi
kasih mereka yang genap 4 tahun.
Ajeng berlari keluar dan
memacu mobilnya kencang menuju rumah Andre. Ketika sampai alangkah
terkejutnya Ia mendapati rumah Andre ramai dikunjungi orang. Dadanya
berdegup kencang saat memasuki halaman rumah Andre. Bendera kuning
terlihat menghiasi pagar rumah Andre. Ia hanya dapat bertanya-tanya
dalam hati siapakah keluarga Andre yang telah berpulang. Saat berada
didepan pintu rumah Andre. Tiba-tiba Ajeng di tubruk sesosok gadis kecil
yang bercucuran air mata.
"Kak Ajengiiiiiiiii...., Mama
baru mau telepon Kak Ajeng " ujar gadis kecil itu pilu. Ia menumpahkan
air matanya dipelukan Ajeng. Puluhan pasang mata menatapnya. Ia masih
terheran-heran sambil mencoba menenangkan Grachel adik dari mantan
kekasihnya, Andre.
"Chel... ada apa? Siapa yang meninggal? Mana Kak Andre?" Ajeng memeluk tubuh Grachel dengan erat.
Gadis kecil itu masih tampak kesulitan berbicara. Dengan terisak-isak Ia menarik tangan Ajeng perlahan menuju ruang keluarga.
Sungguh
sebuah pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Kedua orang tua Andre
tampak menghampiri Ajeng yang terduduk lemas. Wajah tenang Andre dibalut
kain kafan. Tubuhnya ditempatkan disebuah peti yang terletak tepat
dihadapannya. Ajeng tak dapat berkata-kata. Tiba-tiba semuanya gelap. Ia
hanya dapat mendengar jeritan Grachel dan Tante Marwa, Ibu kandung
Andre.
*****
Satu minggu berlalu sejak
kepergian Andre. Ajeng tetap tidak dapat menyembunyikan Kesedihan
hatinya yang dalam. Ia terguncang dan tidak menyentuh makanan
sedikitpun. hanya sedikit air yang masuk kedalam tubuhnya. Ia tidak
merasa lapar. saat ini yang Ia inginkan hanya kembali melihat senyuman
orang yang paling Ia cintai, dan berada didalam dekapannya. Rasa
penyesalan yang selalu hinggap dalam hatinya membuat Ia kehilangan arah
dan tujuan hidupnya.
Andre yang tepat merayakan hari
bahagianya, Ia hancurkan dengan satu kalimat yang Ia lontarkan dengan
tidak berperasaan. Andre begitu terluka dan sedih sehingga tidak
menyadari jika Ia tengah menyeberangi jalan yang ramai dan berhadapan
dengan sebuah Truck yang sedang melaju kencang. Andre terlambat dibawa
ke RS. Menurut pengakuan saksi mata yang ikut melayat ke rumah Andre.
Andre hanya sempat menyebutkan satu kata sebelum menghembuskan nafas
terakhirnya "Ajeng..."
END.

Label: Cerpen