Oke
guys, ini cerpen pertama aku di blog ini. Semoga sastra ini bermanfaat
dan menghibur. Tunggu karya-karya Arum lainnya yang pastinya lebih
keren. Damn, it is COOL!
BISIKAN ROH SETAN
Di
belakang gedung olahraga SMA ku ada sebuah gedong kecil yang sudah tua dan
candi bentar kori. Rasanya tidak percaya kalau daerah itu adalah
bagian dari teritori sekolah. Seakan daerah itu merupakan dimensi lain dari
dunia yang berbeda dengan udara dingin yang mengalir perlahan-lahan.
“Hey, Yudha!”
“Ayu!” jawabnya kemudian menoleh kepadaku.
“ Sedang apa kamu di sini?” tanyaku.
“Oh, tidak. Aku cuma heran saja, mengapa ada
benda seperti ini di sini?” jawabnya seraya kembali mengamati gedong itu.
“Ohhh itu. Katanya sih sudah ada sebelum
sekolah ini didirikan. Menurut cerita para senior, setiap kali akan dipindahkan
atau dibongkar, selalu saja terjadi kecelakaan. Makanya dibiarkan tetap di sini.”
“Ohh.. Berarti sama. cerita lama, ya? Seperti
gerbang puri yang ada di daerah teluk Karangasem.”
“Wow! Ternyata kamu tahu banyak juga tentang
hal seperti itu. Jangan-jangan kamu memang percaya dengan hal semacam kutukan
atau roh,” ungkapku antusias.
“Kenapa? Lucu ya? Memang aneh sih, anak cowok
berminat terhadap hal-hal seperti ini.”
“Ah, bukan begitu. Hehe. Oh iya, kalau tak
salah ayah bilang, Inspektur Gunawan, ayah kamu itu peka terhadap mahluk-mahluk
halus ya? Itu sebabnya dianggap aneh oleh instansi kepolisian yang biasanya
selalu mengutamakan inspeksi ilmiah.”
“Tapi ayah juga bilang kalau insting seorang
inspektur polisi juga penting. Sebab, kadang ada insting yang tidak dapat
dijelaskan secara spesifik bukan? Misalnya kenapa aku tidak suka tempat ini, rasanya
takut dan ngeri. Mungkin cara aku mengatakannya agak ganjil, tapi aku merasa
ada suatu hawa kejahatan terutama di gedong itu. Seakan ada sesuatu yang
menunggu, sedapat mungkin aku tak mau mendekati gedong itu,” jawabnya dengan
wajah penuh rasa cemas dan heran.
Sebenarnya aku kurang begitu percaya dengan
hal mistis seperti ini, tetapi mendengar Yudha bercerita seperti ini bulu
kudukku mulai merinding juga. Aku pun mulai mengamati gedong ini sampai sesaat
aku ingat kenapa aku ada di sini?
“Eh.. Aku lupa! Aku ke sini untuk mencari Rama!”
teriakku kaget.
“Heh? Rama?”
“Iya, sejak pelajaran selesai, dia tak
kelihatan. Aku jadi khawatir, jangan-jangan tertangkap Bima lagi,” jawabku
cemas sambil beranjak mencari Rama.
“Bima? Teman sekelasku?” tanyanya yang kini
juga ikut membantuku mencari Rama.
“Mungkin kau tak tahu, karena baru saja pindah
ke sini. Rama itu sejak kelas satu sudah jadi incarannya. Sedikit-sedikit
terlibat sama mereka, entah diminta uangnya atau bekal makanannya. Sepertinya juga
Rama sering dibawa ke sini.”
“Itu bukannya berarti pemalakan?”
“Memang! Tapi semua guru pura-pura tidak tahu
sebab Bima itu anak orang terpandang dan prestasinya bagus,” jawabku kesal.
“Tapi, hari ini sepertinya tak perlu khawatir.
Bima pulang lebih awal karena sakit perut.”
“Hah? Benarkah? Hahaha. Aku ingin lihat
tampangnya yang sakit,” ucapku sinis.
“Lho! Kalau begitu, Rama ke mana? Ini sudah
akan jam pulang sekolah.”
******
Sepulang sekolah, Rama dikepung oleh gengnya
Bima di belakang gedong tua sekolah.
“Hei
kau! Jangan macam-macam ya. Gara-gara bekal makan siangmu yang sudah basi itu,
Bima jadi menderita. Kamu nggak kirim uang simpati, ah?” tanya Gusti gusar
sambil menonjok Rama.
“Tapi aku benar-benar tidak punya uang. Aku
bermaksud menghentikannya. Tadi aku mau bilang kalau itu bekal kemarin yang
lupa kumakan. Tapi aku dipaksa,” jawab Rama ketakutan.
“Sialan! Jadi kamu mau bilang kalau mulut Bima
itu sembarangan? Kurang ajar!! Kamu sengaja mengarahkan supaya dia makan itu
kan!” balas Rai marah. Mereka berdua pun mulai mengeroyok, meninju, memukul.
Badan Rama sudah babak belur dan berdarah.
Sekarang Gusti mencoba mengambil pisau dari
sakunya.
“Hobi kamu main biola bukan? Biola itu yang
terpenting tangan ya. Bagaimana supaya lebih menarik kita berikan coretan luka
yang indah di tangannya? Setuju?”
“Tolongg. Tolong jangan lakukan itu,” pinta
Rama merintih.
“Sudah terlambat tahu! Rasakan ini.”
ZRETTT.
“Argghhhhh. Aw ahh tangankuuu. SAKITT!!. Akan
kubalas! AKAN KUBALAS PERBUATAN KALIANNNN!!!!“
Batu dalam gedong terbelah dua, kemudian
keluarlah sesosok hantu besar berkain putih. Tiba-tiba suara petir menggelegar
dan terdengar suara goresan keris. Gusti dan Rai dibunuh!
*****
Saat itu Ayu ke rumah Yudha untuk minta tolong
mencarikan Rama..
Ting tong ting tong. Suara bel rumah Yudha
berbunyi.
“Lho Ayu, ada apa?”
“Maaf malam-malam mengganggu. Aku dapat
telepon dari ibu Rama, katanya dia belum pulang juga. Tolong bantu cari dia
ya?”
“Rumahnya
berlawanan arah dengan sekolah, tapi jaraknya hanya lima menit dengan berjalan
kaki. Tak masuk akal kalau nyasar. Rama keluar dari rumahku sekitar jam
setengah 6 sore, dan sekarang sudah hampir jam 9 malam,” ujarku cemas dan mulai
memanggil nama Rama.
“Tunggu! Eh, itu asap kan? Di belakang gedung
olahraga. Ayo, kita ke sana!”
“Ah gedongnya hangus! Pasti karena tersambar
petir tadi. Untung ada hujan yang deras, tak sampai terjadi kebakaran besar.
Eh, coba lihat deh di dalam gedong ini ada batu terbelah dua.”
“Dibandingkan dengan tadi sekarang tidak
terlalu mistis, bahkan mendekati hampa. Meskipun hanya sedikit, aku bisa
merasakan adanya setan di sini. Sesungguhnya gedong ini dulu untuk mengenang
apa, ya?” wajah Yudha mulai pucat.
“Aahh, Yudha sini. Ramaaaa!! Apa yang terjadi?
Ayo sadar Rama. Ah kenapa dengan tangannya?” ujarku cemas. Namun saat aku akan
berbalik…
“Awas!! Ayu jangan lihat ke belakang!”
Tampak di dekat tubuh Rama, tergeletak dua
mayat laki-laki Gusti dan Rai!
Sejak itu, semalaman aku menangis terus.
Katanya penyebab kematian dua orang siswa itu karena dipotong benda tajam
semacam keris. Apa pelakunya seorang psikopat? Jangan-jangan polisi menuduh
Rama. Entahlah menurut penyelidikan kejahatan ini dilakukan oleh orang berbadan
besar. Rama sendiri sedang koma. Jadi, tak mungkin ditanyai tentang kejadian
itu.
Walaupun situasi di sekolah mulai normal, tapi
akhir-akhir ini muncul isu aneh. Munculnya pria dengan rambut panjang, badan
tinggi dan berkain putih. Terdengar langkah kaki, “tap tap tap…” mengikuti dari
belakang. Tapi kalau kita menoleh, tak ada siapa siapa. Dan selalu terjadi
kalau sendirian, pada saat pulang sekolah.
*****
Saat
itu aku baru pulang dari klub. Lho burung gagak apa ini…? Rasanya akhir-akhir
ini jumlahnya lebih banyak, aduh perasaanku tidak enak. Aku pun cepat-cepat
pergi dari ruang klub. Hingga kemudian aku mendengar ribut-ribut, maka aku pun
berhenti dan menguping.
“Pokoknya
jangan dekati dia!”
“Enak
saja! toh kamu cuma bertepuk sebelah tangan!”
“Ta…tapi
aku yang lebih dulu suka dia! Kamu tahu itu kan?”
“Konyol!
Ini bukan masalah prioritas bagi yang duluan, apalagi dia tak punya perasaan
apa-apa terhadapmu!”
Wow!
Ternyata ada medan perkelahian antara si cantik dan terkenal keturunan Jepang Yumi
dari kelas B dengan Mirah.
Dheggg!
Eh? Aneh… Perasaan ada seseorang yang berdiri di belakangku..
GREEK…
Pintu pun terbuka.
“Aduh,
Yumi… jangan mengagetkan donk!” ujarku kesal.
“Lha
kamu sendiri? Jangan-jangan kamu nguping?” tanya Yumi dengan nada dingin.
“Ng..
maaf aku tak bermaksud begitu…” Dengan sinis Yumi pun meninggalkanku. Aduh biasa
deh, Yumi. Dasar sombong!
Kenapa
aku masih di sini? Ya, ampun cepat-cepat, pergi ah! Tapi ada apa ya dengan
Mirah? Mengapa mukanya memerah dan matanya melotot begitu sambil berteriak
marah?
“Akan
kubalas dia. AKU BALASSS !! AKU BALAS… AKU
BALASSSSSS!!!”
“Mi..
mirah…? Kamu tak apa-apa…?”
Aku
pun mendekati Mirah. Kini badannya sangat panas. Dan tubuhnya menggelepar
seperti kerasukan. Dia juga terus-terusan memegang kepala kesakitan sampai
akhirnya Mirah pingsan!
“Mirah…!.
Gawat! Aku harus panggil guru…!”
“Tiara,
mana guru? Mirah pingsan di ruang ganti baju.”
“Sekarang
ini ada yang lebih gawat. Yumi anak kelas B itu. Dia akan melompat dari atas
gedung olahraga!”
“Apaa??”
Kami
berdua pun segera berlari menuju ke lokasi Yumi akan jatuh. Di sana sudah
banyak murid yang panik dan berkerumun. Sampai kemudian….
PRANGGGG..
BRUKKK!!
Astaga!
Itu Yumi! Dia benar-benar lompat dari atas gedung. Kami semua mendekati tubuh
Yumi yang kini sudah berlumuran darah.
“Kyaa!
Tadi aku lihat, di belakang Yumi ada pria berkain putih!” seru Tiara.
“Apa?
Iiih seram. Jadi ternyata benar-benar ada hantunya,” siswa lain pun menanggapi.
Semua
anak yang menonton kejadian itu pun mulai ribut dan berkomentar. Suasana
berubah menjadi sangat seram ditambah dengan burung gagak yang mulai
berdatangan.
Ayu masih tampak shock dengan kejadian yang
barusan dilihatnya. Dia pun duduk di kelas menenangkan diri. Tampak Bima dari
luar kelas memperhatikan Ayu, dia berencana untuk menghibur Ayu. Tapi di sana
sudah ada Yudha! Bima sudah keduluan.
“Ini kopi untukmu. Sudah agak tenangan?” tanya
Yudha seraya memberikan kopi padaku.
“Eh. Terima kasih. Maaf ya, begitu melihat
wajahmu tiba-tiba aku jadi ingin nangis.”
“Iya tidak apa-apa kalau kamu mau kapan pun
aku siap menggantikan Rama,” ujar Yudha, tangannya pun mulai merangkulku.
“Lah? Kamu apaan sih. Aku dan Rama cuma teman
sejak kecil kok. Kamu salah sangka,” jawabku sambil menepis tangannya. Pipiku
sudah mulai memerah.
Bima
sedang mengintip dengan sangat kesal yang melihat kemesraan Ayu dan Yudha.
“Coba aku agak lebih lama di sekolahnya. Tadi
aku buru-buru karena ada sesuatu yang ingin kuselidiki tentang gedong itu juga,”
kata Yudha menyesal.
“Lho, kamu juga berpikir begitu? Tadinya aku
takut ditertawakan kalau mengatakan itu. Tapi kejadian pada Rama, lalu Yumi dan
Mirah. Memang banyak muncul gosip seputar gedong itu. Lalu kupikir,
jangan-jangan kita tidak boleh membiarkannya rusak seperti itu. Juga tentang
pria berkain putih itu.”
“Ayo kita tanyakan kepada kepala sekolah!”
Karena
kepala sekolah yang sekarang baru menjabat maka kami kemudian pergi ke rumah
kepala sekolah yang dulu…
“Apa? Sudah meninggal dunia?”
“Iya, mendadak kena stroke. Baru saja kami
melewati 3 bulan hari kematiannya. Apa mungkin karena lama bertugas di SMA itu.
Bapak selalu memikirkan sekolah itu, katanya mungkin karena kepala sekolah yang
sekarang masih muda jadi tak ada keinginan untuk mengadakan upacara.”
“Tunggu, apa maksud beliau gedong di belakang
gedung olahraga itu?”
“Saya tidak mengerti. Tapi kalau tidak salah
setiap tahun bapak selalu minta tolong pura di dekat SMP itu untuk mengadakan
upacara.”
Kemudian
kami pun mendatangi rumah pemangku pura tersebut.
“Ayah saya kepala pemangku pura ini. Beberapa
hari yang lalu meninggal dunia karena serangan jantung. Kemarin baru saja
mengadakan upacara 42 harinya. Rencananya saya yang akan melanjutkannya. Saya
kurang tahu tentang SMA ini. Tapi kami akan membereskan gudang barang
peninggalannya, jadi kalau ada informasi nanti saya akan menghubungi kalian.”
“Iya terima kasih. Saya tunggu kabarnya.” Kami
pun meninggalkan rumah pemangku pura itu. Namun mendadak Yudha berhenti.
“Rasanya aneh. Maksudku rasanya kita selalu
didahului. Setiap tempat yang kita kunjungi, semuanya meninggal mendadak,”
ungkap Yudha kaget.
“Jangan menakuti seperti itu dong!” jawabku
ngeri.
“Maaf.. Mungkin juga sih itu kebetulan. Tapi
setidaknya sampai kepala sekolah sebelum ini, setiap tahun mengadakan upacara
selamatan. Artinya, pasti ada yang diagungkan atau diperingati oleh orang-orang.”
*****
Besoknya putra pemangku pura datang ke sekolah
untuk menyampaikan bahwa gudang di puranya hangus terbakar. Jadi arsip-arsip gedong
di sekolah hangus semua.
Sehubungan
dengan itu, putera pemilik gedong tersebut mau menyampaikan sesuatu yang
penting kepada kepala sekolah. Maka kami juga ikut hadir di ruang kepala
sekolah karena kami tidak ingin keduluan lagi.
“Semua
buku sejarah dan dokumen kuno penting habis terbakar. Entah kabar dari mana
sekitar seminggu sebelum meninggal, ayah sempat menceritakan pada saya zaman
dahulu seluruh kawasan ini adalah wilayah kekuasaan suatu keturunan yang bernama
Granachika. Dia adalah seorang penjahat yang mungkin bisa disebut pembunuh
maniak,” ujar putra pemangku menjelaskan.
“
Pembunuh maniak?” tanyaku ngeri.
“Kalau
menurut pendapat saya, Granachika adalah sosok manusia yang tidak bisa
mencintai wanita dengan cara moral. Dia menyerang wanita-wanita di wilayahnya
hanya dengan tujuan untuk membunuh. Bahkan pernah terjadi dia menyeret korban
ke rumahnya dan memotong-motongnya. Tapi, yang tahu hal ini hanya segelintir
keluarganya saja, khususnya adiknya yang bernama Agunglah yang dengan lihai
menutupi aib ini, dengan memanfaatkan kekuasaan dan kedudukannya. Suatu kali, Agung
tidak mampu lagi menutupi hal ini karena didasari rasa takutnya diketahui oleh masyarakat,
akhirnya ia berhasil mengisolir Granachika ke negara lain… Setelah dua puluh
tahun lamanya terisolir, Granachika jatuh sakit dan sampai akhir hayatnya dia
terus memendam rasa dendam dan kebencian terhadap adiknya.”
“Tapi, justru yang menakutkan adalah setelah
ini. Antara lain bekas cap tangannya yang berlumuran darah, yang merupakan
tanda di akhir hayatnya. Meski sudah dibersihkan berulang kali, tetap tak bisa
hilang dan juga dari tulang belulang yang dibawa pulang ke rumahnya keluar
gumpalan darah. Lalu di kamar yang seharusnya kosong tiba-tiba ada orang
terbunuh. Pokoknya, banyak sekali kejadian aneh berturut-turut di wilayah
kediaman keluarga Granachika. Akhirnya, tak ada seorang pun anggota keluarga Granachika
yang tersisa, semua terbunuh dengan cara menggenaskan, anggota keluarganya
punah dan semua wilayah kekuasaanya disita. Namun kejadian aneh masih saja
terjadi, sehingga seorang dukun terpandang yang dekat hubungannya dengan
keluarga Granachika, mengubur roh Granachika ke dalam batu dan dipusakakan. Agar
roh Granachika tetap tenang di alamnya, setiap tahun diadakan upacara,”
jelasnya lagi.
“Jadi, bekas kediaman keluarga Granachika
tidak lain adalah gedung sekolah SMA ini. Lalu gedong kuno itu didirikan untuk
mendoakan roh Granachika,” ungkapku mengerti.
“Ternyata
dia adalah Granachika..! Dendam dan kebencian, oleh sebab itu dia akan merespon
getaran roh orang-orang yang memendam perasaan seperti itu,” ujar Yudha.
“Maksudnya?”
tanyaku tidak mengerti.
“Pada saat orang yang terdesak itu berubah
niat untuk melawannya, getaran rohnya akan sampai pada titik klimaks. Sampai
akhirnya memanggil roh Granachika untuk bangun dari peristirahatannya,” jelas
Yudha.
“Maksudnya
pada Rama maupun Mirah juga…?”
“Ya,
begitulah.”
“Tidak!
Apa yang saya dengar ini konyol memang menarik sebagai suatu cerita, tapi
mustahil terjadi di kehidupan nyata. Saya tak percaya cerita itu!” jawab Kepala
Sekolah ragu.
“Bapak
hanya tidak mau mempercayainya! Bagaimana nasib Rama dan Mirah?” aku pun
menggertak dengan kesal.
“Pak, lebih baik segera bangun kembali gedong
tersebut setidaknya, tolong berikan izin kemudian kita lakukan upacara. Tiga
hari lagi, tepatnya pada tanggal 26 September, adalah hari kematian Granachika.
Tahun ini bertepatan dengan peringatan kedua ratus tahunnya. Paling tidak,
tahun ini harus diadakan upacara, karena kalau tidak, saya khawatir akan
terjadi sesuatu yang tak diinginkan,” putra pemangku itu juga ikut membujuk.
Kepala
sekolah tetap tak memberikan jawaban.
*******
Besoknya
di sekolah…
PLOK.
Sepucuk surat terjatuh dari lokerku. Ternyata Bima mengajakku bertemu di gedung
olahraga sepulang sekolah.
“Ayu..! Mungkin pertanyaanku aneh, apa benar Bima
suka padamu..?”
“Eh..?
Entahlah.. Tapi teman-teman sering menggodaku begitu…” ujarku malu.
Oh!
Jadi begitu. Kini kebencian Bima yang dimanfaatkan! Sebenarnya kebencian Bima ditujukan
pada Rama, tapi karena kekuatan batinnya lebih kuat daripada Bima, jadi
terpental ke Ayu!! Kalau begitu, Bima juga sedang dalam bahaya! Nantinya dia
bisa mengalami hal serupa dengan Rama dan Mirah, bahkan bisa saja roh Granachika
bangkit lagi dan merasukinya. Maka Yudha pun bersedia mengantarku menemui Bima.
Hari
ini banyak sekali roh bergentayangan. Mereka terserap oleh getaran roh yang
lebih kuat lagi!
Akh…!
Celaka! Aku jadi sesak napas… Kepalaku juga nyut-nyutan… Sialan! Padahal sudah
lama tak pernah seperti ini… Hosh..Hosh..Hosh.. Kondisi Yudha menjadi aneh dan
pucat.
ZRET..BRUUK..
Yudha pingsan! Aku seharusnya tak boleh seperti ini…!! Aku harus melindungi Ayu. Dia yang tak pernah
merasa aneh dan takut padaku. Dia cewek pertama yang begitu. Aduh badanku tak
bisa bergerak!
******
“Yudha lama sekali, padahal pasti waktu
latihan ekstrakurikuler sudah selesai…”
“Ayu!” terdengar suara dari dalam gedung dan
ternyata itu Bima!
SETTT… Bima berlari ke dalam gedung.
“Eh, Tunggu Dulu, Bima…!! Bima… Jangan lari!” Aku pun segera mengejar
Bima.
GREEEK, seseorang mengunciku di gedung olahraga
dan memadamkan listrik.
“Apa ini? Tak bisa dibuka..! Hentikan..! Siapa
sih yang iseng begini ?... HENTIKAN !!!”
Di
UKS, ayah Yudha pun datang menjenguk Yudha yang pingsan. Namun setelah dibacakan mantra tertentu. Yudha
pun mulai sadar.
“Yudha? Sudah sadar ya? Kamu kalah dengan roh
kelas rendah lagi, kamu kurang latihan. Kenapa hawa jahat di sekolah ini besar
sekali?” ungkap ayah Yudha.
“Oh iya, Ayu! Ayah, aku harus segera
menolongnya.” Yudha pun bergegas mencari Ayu.
******
Kini
Ayu terperangkap di dalam gedung olahraga bersama dengan Bima. Namun ada yang
aneh dengan sikap Bima, tiba-tiba dia memelukku paksa.
“Aku
mencintaimu. Tak akan kuserahkan dirimu pada siapapun. Ayo ke sini sayang, semua
yang ada pada dirimu milikku! Sampai titik darah penghabisan. Ya benar.
DARAHMU!! Aku ingin melihat darahmu. Darah…Darah.. Darahhhhhh.”
Di
tangan Bima kini sudah ada segenggam keris. Aku pun berlari melepaskan diri tetapi
Bima masih terus mengejarku. Aku terus berusaha berteriak minta tolong.
Kemudian, Yudha datang!
Yudha pun segera meraihku dan berusaha
melarikanku tetapi tiba-tiba tubuh Bima berubah. Kini dia berubah menjadi
hantu! Badannya sangat besar dengan keris di tangan dan dia berkain putih!
Saat Bima akan mengayunkan kerisnya ke arah
kami, Yudha pun mengambil kerisnya dan mengucapkan sebuah mantra.
“Kembalilah ke tempat yang telah dijanjikan Granachika!
SELAMANYAAAA!!!”
ZRETTTTZZZ.
BLAAARRRR.. Akhirnya Yudha pun memenangkan pertempuran kali itu dan berhasil
mengusir roh Granachika dari tubuh Bima, meskipun Yudha dan Bima kini pingsan.
******
Beberapa
hari kemudian situasi mulai tenang, Yudha yang terlelap akibat pertempuran sudah
pulih kembali. Kemudian berkat desakan ayah Yudha, akhirnya kepala sekolah mau
membuka hatinya. Gedong ini didirikan kembali dan diadakan upacara untuk roh Granachika
serta upacara dua ratus tahun meninggalnya. Rama dan Mirah juga sudah sadarkan
diri. Meskipun tiga orang korban yang meninggal tak bisa kembali lagi, situasi
dan kondisi sekolah sudah mulai normal.
Meski
gedong tak akan pernah lagi dibiarkan rusak dan upacara diadakan setiap tahun.
Bukan berarti getaran jahat yang ada dalam diri kita tidak akan membangunkan
roh Granachika.
Kecemburuan,
iri, dendam, kemarahan, kebencian dapat membangkitkan roh jahat yang terpendam
pada diri kita. Sebab sekolah adalah tempat yang mudah menimbulkan rasa itu.
TAMAT
What do you think guys? (Please bilang serem. -_-)
1 komentar
Label: Video Clip